Era Baru

Jum'at, 16 Mar 2012 (? from this blog)

Kejanggalan Bom Ulil-JIL, Rekayasa Sudutkan Ba'asyir

JAKARTA (voa-islam.com) – Markas Jaringan Islam Liberal (JIL) diberi kado bom yang dikemas dalam buku tebal, Selasa (15/3/2011). Paket itu ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla pendiri JIL, dialamatkan ke kantor KBR 68 H, Jl. Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur. Paket itu datang pukul 10 WIB di resepsionis. Paket berbungkus sampul cokelat tersebut berisi buku berjudul ”Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-dosanya terhadap Kaum Muslimin.” Ketika dibuka, di dalam buku ada kabel, jam dan batere. Penemuan ini langsung dilaporkan kepada satpam, yang meneruskan laporan itu ke Kepolisian setempat.

Sekitar pukul 16.05 WIB, bom meledak di. Akibat paket bom itu, tangan Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan itu terputus. Ketika itu, paket tersebut sedang diperiksa polisi dengan metal detector, ternyata alat itu berbunyi dan bom itu gagal dijinakkan. Di saat ledakan keras itu terjadi, tangan kiri sang polisi berdarah-darah, terlihat putus.

Bila dicermati, banyak kejanggalan dalam kasus Bom Utan Kayu ini, di antaranya:

1. Bom dialamatkan untuk Ulil Abshar Abdalla tapi dikirimkan ke kantor berita KBR 68H. Ulil memang salah satu dedengkot JIL yang bermarkas di KBR 68H, namun sudah lama sekali sejak Ulil menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat ia jarang sekali datang ke 68H dan lebih banyak berkantor di DPP Partai Demokrat.

2. Lalu kenapa bom dikirimkan ke Kantor berita 68H, karena mudah diduga akan cepat mendapatkan blow up media massa. Termasuk tujuan untuk mengangkat kembali citra JIL dan upaya liberalisasi Islam di Indonesia oleh kalangan liberal yang suka bermarkas di kantor 68H. Seperti diketahui bahwa JIL sudah tidak lagi populer saat ini dan tidak laku di kalangan masyarakat bawah.

....Bom ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla tapi dikirimkan ke kantor berita KBR 68H. Padahal Ulil jarang sekali datang ke 68H sejak menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat. Ia lebih banyak berkantor di DPP Partai Demokrat...

3. Kecerobohan aparat kepolisian dalam menyikapi paket yang mencurigakan, seolah-olah tidak memiliki standard operational procedur (SOP). Dalam SOP, yang punya kewenangan menjinakkan bom adalah tim gegana. Namun dengan cerobohnya beberapa aparat yang sok jagoan tnpa menggunakan pengaman membuka paket itu sehingga menjadi korban. Atau dikorbankan?

4. Dalam buku paket bom itu tertulis nama penyusunnya adalah Drs. Sulaiman Azhar, Lc. Selama ini sangat jarang orang yang memiliki dua gelar kesarjanaan Drs dan Lc, namun tentu tidak mustahil adanya.

5. Terlalu mudah untuk ditebak sasaran tembak bom ulil yang sangat vulgar kemana arah dampak bom itu dituju, yakni kalangan dan kelompok Islam yang dianggap radikal. Selama ini pola bom-bom yang kemudian mengarah kepada penangkapan aktivis Islam dan pemburukan citra Islam tidak secara langsung mengarah kepada Islam.

6. Terlalu polos kalau ada aktivis Islam melakukan tindakan itu secara terang benderang seperti bom ulil itu. Bagi yang paham pola perjuangan Islam pola itu mungkin tidak pernah terpikirkan.

7. Kenapa lama sekali tim gegana datang ke lokasi, sementara siang hari adalah waktu jalan raya agak lengang?

8. Kenapa intelijen aparat absen dengan kemungkinan bom ulil ini? Sementara untuk bom-bom yang lain aparat mampu mengendusnya jauh sebelum kejadian.

9. Kenapa ada staf kantor yang begitu tidak sopan mengintip paket untuk orang lain? Kenapa waktu ia dengan tidak sopannya membuka paket itu bom tidak meledak dan meledak saat polisi yang membukanya? Kenapa harus polisi? Apakah bukan karena agar polisi marah dan dendam akibat personilnya terluka. Sekali lagi kenapa tidak menunggu sampai tim gegana datang?

10. Aneh! Bom dalam bentuk buku itu sempat-sempatnya difoto??? Gunanya jelas…

11. Jika kita melihat video detik-detik ledakan itu, disana tidak terlihat adanya police line, malah Kompol Dodi Rahmawan yang sedang membuka berusaha menjinakkan bom itu disaksikan warga dari dekat. Coba anda perhatikan secara saksama rekaman video setelah bom meledak dan kamera yang bergoyang ke sana kemari memperlihatkan kondisi di sekelilingnya dan menunjukkan tidak adanya garis polisi serta warga yang menonton dari dekat.

12. Kenapa Polisi tidak menjauhkan warga dari resiko meledaknya Bom tersebut???

13. Kenapa tidak menunggu gegana saja untuk menjinakkan buku yang diduga kuat bom itu? Kenapa Kompol Dodi begitu berani membongkar bom itu tanpa pelindung sedikitpun? Apakah dia memang sudah mengetahui jika bom buku itu berdaya ledak rendah?

14. “Polisi telah menghubungi gegana namun gegana tak kunjung datang. Kompol Dodi Rahmawan meminta anggotanya untuk meminta petunjuk gegana.” Gegana tak kunjung datang, malah memberi petunjuk cara penjinakkan kepada Kompol Dodi. Rasanya tidak masuk akal jika dalam keadaan seperti itu, tim gegana malah menyuruh kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu. Mungkin Tim Gegana lagi males kali ya.. Kalaupun tim gegana memberi petunjuk kepada Kompol Dodi, apakah mungkin gegana menyuruh Kompol Dodi untuk menyiram buku yang berisi kabel dan logam berbentuk kotak itu dengan air??? Anehnya lagi kalaupun memang Tim Gegana memberi petunjuk, kenapa Kompol Dodi malah berkata bahwa dia kira itu hanyalah mercon. :-/ :-/Adakah mercon pake kabel??? iya itu mercon, tapi gede, mercon gede itu disebut bom..

15. Kasat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Imam Margono mengaku tidak memberi arahan apa-apa kepada Kompol Dodi apalagi memberi perintah untuk menyiram bom itu dengan air, “itu tindakan bodoh” katanya. Malang nian nasib Komisaris Polisi Dodi. Sudah tangan putus, dimarahin atasan pula.

16. Gegana datang sejam setelah bom meledak. Ko bisa ya? 1 jam setelah meledak baru datang. Kaya polisi india aja.Orang dah pada kemana…superhero baru nongol..mau jinakin apa pak?

Jawaban Kapolri soal Keterlambatan Gegana

“Itu bukan karena terlambat, tapi memang pukul 13.30 WIB baru lapor ke polisi,” kata Kapolri Timur Pradopo. Dua jam setengah ternyata bukan waktu yang cukup bagi Tim Gegana hanya untuk datang ke lokasi pelapor. Jadi harus nunggu tiga jam setengah baru dateng ke lokasi pelapor, belum waktu penjinakkannya.

Aneh sekali, ketika kasus terorisme yang baru diduga ada bahan peledak Densus 88 dan Gegana begitu sigap dan profesional. Tetapi kenapa tidak pada kasus bom Utan kayu yang jelas-jelas bom itu sudah di depan mata?

Sekali lagi, apa yang mendorong Kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu sendiri??

Dan siapa Anggota Tim Gegana yang dimintai arahan oleh Kompol Dodi untuk menjinakkan bom itu?

Kenapa Gegana begitu terlambat dan tidak tanggap atas laporan bom ini?

Kejanggalan ini diperkuat oleh Mustofa B Nahrawardaya, pengamat dari Indonesian Crime Analys Forum yang meyakini bahwa bom ini adalah konspirasi intelijen.

“Bom ini saya yakini dibuat oleh intelijen hitam yang ingin menciptakan suasana tidak kondusif di tengah kontroversi sidang Abu Bakar Ba'asyir,” tegas Mustofa

Cukup masuk akal pendapat Mustofa yang dilansir detik.com di atas. Di tengah konspirasi busuk pemerintah untuk kembali memenjarakan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir namun mereka tidak cukup bukti, hingga persidangan sandiwara terus berlanjut dengan tuduhan-tuduhan ringan namun diperumit. Pemerintah harus menciptakan bukti lain untuk menyempurnakan sandiwara.

Kesimpulannya, peristiwa ini seolah telah dirancang begitu rupa. Karena jika melihat keanehan yang terlihat dari Tim Gegana yang bom seolah dipaksa untuk meledak untuk memakan korban agar bisa menimbulkan atau mengalihkan isu.

Atau mungkin jika memang semua ini berhubungan dengan Persidangan Ust. Abu maka mereka akan mencari pelaku yang akan kembali disangkut-sangkutkan dengan Ustadz Abu untuk memperkuat bukti Jaksa penuntut Ustadz Abu.

Seperti sering aktivis JIL bilang, “rakyat sudah semakin cerdas bos….!” [Wildan Hasan]


========================

Ahmad Dhani dan Yahudi Militan

INILAH.COM, Jakarta -Setelah aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere dan Pimpinan Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno, kini musisi Ahmad Dhani juga dikirim paket bom yang diselipkan dalam buku. Kenapa judul bukunya: Yahudi Militan?

==================
Ulil, Gories, Japto & Dhani Dianggap Musuh Islam
Laela Zahra

INILAH.COM, Jakarta - Rangakaian paket teror bom dalam kemasan buku, tidak mengartikan buku tersebut memiliki esensi dari pesan yang ingin disampaikan pelaku teror.
==========================


foto selidiki bom bnn

JAKARTA, 16/3 - SELIDIKI BOM BNN. Tim Puslabfor Mabes Polri meneliti lokasi ditemukannya bom di halaman parkir bawah Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jakarta Timur, Selasa (15/3) malam. Sore sebelumnya paket bom jenis yang sama meledak di Utan Kayu yang ditujukan untuk tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala. FOTO ANTARA/Dhoni Setiawan/Koz/Spt/11.

16/3/2011 11:25

80 x dilihat 0 komentar 0 penilai


==============

Ahmad Dhani Sebut 'Yahudi Militan' Alay

Kamis, 17 Maret 2011 - 16:53 wib
Elang Riki Yanuar - Okezone
Buku berisi bom untuk Ahmad Dhani (Foto:Dok.RCM)
Buku berisi bom untuk Ahmad Dhani (Foto:Dok.RCM)
JAKARTA - Ahmad Dhani mengaku, sempat tertarik mengisi kata pengantar buku Yahudi Militan yang dikirim ke studionya. Tapi begitu tahu ternyata paket buku itu berisi bom, Ahmad Dhani langsung menyebut buku itu alay (kampungan).
============================
Jum'at, 18 Maret 2011 , 08:12:00
PAKET KEDUA : Tim Gegana Polri kemarin kembali mengamankan paket yang diduga bom di kantor KBR 68 H, Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur kemarin (17/3). Paket tersebut kemudian dimasukkan ke dalam box khusus, dan dibawa ke Markas Komando Gegana, di Petamburan Slipi, Jakarta Barat. ------ Foto: Fery Pradolo/INDOPOS
JAKARTA - Upaya Tim Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya menjinakkan paket bom berupa buku di rumah musisi Ahmad Dhani kemarin (17/3) mirip dengan adegan dalam film The Hurt Locker. Seorang petugas gegana dengan seragam antibom mengeluarkan bom buku dari rumah bos Republik Cinta Management (RCM) itu, yang beralamat di Jalan Pinang Mas III E1-E2, Jakarta Selatan. Petugas lantas meledakkan bom tersebut. Cerita bom buku yang dikirim untuk Dhani tersebut berawal Selasa lalu (15/3). Saat itu, menjelang tengah hari, petugas pos keamanan Dodi Siswanto menerima paket surat dan buku. Paket tersebut terbungkus rapi dalam sebuah amplop besar berwarna cokelat.

Pada paket itu, tertulis lengkap nama dan alamat sang pengirim. Yakni, Alamsyah Mochtar SSos yang beralamat di Jalan Dramaga 21, Bogor, Jawa Barat. Pun, tertera nomor HP 081310002992. Data-data tersebut telah dicek oleh polisi dan ternyata palsu. Hingga tadi malam, Dodi masih diperiksa sebagai saksi di Mapolda Metro Jaya.Biasanya, papar pegawai desain grafis dan webmaster RCM Devi Aristyawan, kiriman untuk RCM ditaruh sementara di pos keamanan. Setelah terkumpul agak banyak, baru kiriman diberikan kepada sekretaris.

Devi menuturkan, paket tersebut baru masuk ke ruang sekretaris di lantai 2, tepatnya di bagian depan, pada Rabu malam (16/3). ”Saya ingat, Selasa malam barang itu belum naik,” ujarnya kemarin. Akhirnya, paket tersebut diketahui kemarin pagi. Bungkusan paket itu ditaruh di boks tempat surat masuk. Paket tersebut didata Sekretaris RCM Gatik. Gatik menyatakan bahwa Suripto, salah seorang karyawan RCM, membuka paket itu. Setelah terbuka, surat dan buku dipisahkan. Gatik menuturkan, setelah surat dipisah, terdapat dua permintaan dari si pengirim. Pertama, si pengirim paket meminta Dhani mengomentari buku kiriman berjudul Yahudi Militan itu. Dalam sampul buku tersebut, tergambar sosok Dhani dan Alamsyah sebagai penulisnya. Sekilas, buku itu mirip dengan sebuah buku biografi.
Kedua, pengirim meminta Dhani berkenan menghadiri bedah buku tersebut. ”Dalam permintaan itu, bedah buku diset dengan berdiskusi. Tetapi, belum dijelaskan tempat dan waktunya,” tambah Devi. Setelah buku dan surat dipisahkan, Gatik menyuruh karyawan lain mengirim surat tersebut kepada Dhani. Musisi kelahiran Surabaya tersebut saat itu berada di rumahnya yang berlokasi di Jalan Pinang Mas VII D 3-4.

Ketika menerima paket tersebut, Dhani curiga. Sebab, dia menyatakan tidak mengenali nama si pengirim. Pun, jika itu buku biografi, tentu si penulis harus izin untuk menggali data dari Dhani. ”Saya tidak kenal nama tersebut,” ujar Dhani. Santernya pemberitaan ada bom di dalam buku tebal membuat Dhani kian curiga. Alumnus SMPN 6 Surabaya itu lantas meminta Jack Kohler, pamannya, melapor kepada petugas Polsek Kebayoran Lama. Dhani lalu meluncur ke studio Metro TV. Jack mengatakan, saat menelepon polisi, dirinya mendapatkan pesan dari polisi supaya berhati-hati. ”Tunggu sampai petugas datang,” ucap dia.

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 10.00, petugas dari Polsek Kebayoran Lama tiba, disusul dengan Tim Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya. Petugas awalnya mengeluarkan seluruh karyawan. Selanjutnya, giliran tim gegana yang masuk ke rumah Dhani. Beberapa menit kemudian, tim gegana keluar dengan cukup berhati-hati saat membawa buku berisi bom. Buku tersebut dibungkus dengan kain pelindung tebal. Blarrr. Bom buku itu diledakkan dengan bantuan robot di tanah lapang kosong di depan rumah Dhani. Benda sejenis kaleng terlempar dari buku yang meledak tersebut hingga ke sebuah rumah di sebelah kediaman Dhani.
Diduga, pengirim bom tersebut sudah mempelajari mekanisme pengiriman paket untuk Dhani. Gatik menjelaskan, kiriman apa pun tidak diterima jika langsung ditujukan ke rumah Dhani. Beberapa saat setelah bom diledakkan, Dhani pulang dari Metro TV. Dia langsung diserbu puluhan wartawan. Dia menyatakan sudah mengira bahwa kiriman tersebut tidak main-main.

Sebab, beberapa hari sebelum mendapatkan paket tersebut, Dhani menyatakan menerima ancaman lewat Twitter dengan nama akun Mayla. ”Lihat besok ada apa,” ujar Dhani, mengulangi isi pesan tersebut. Akibat teror itu, terang alumnus SMAN 2 Surabaya tersebut, tiga anaknya, Al, El, dan Dul, kaget dan cemas.
Dhani menjelaskan, dalam ancaman tersebut, dirinya dituduh sebagai agen Zionis, Yahudi. Dia menambahkan, dirinya selama lima tahun terakhir sering mendapatkan teror berupa permintaan menulis tentang fakta-fakta Yahudi. Selain itu, ancaman muncul dari video-video di YouTube. Musisi berbintang Gemini tersebut mengatakan menanggapi enteng ancaman tersebut. ”Sudah bagian dari hidup saya jika dituduh dengan hal-hal seperti itu,” kata mantan suami Maia Estianty itu.
Dari kejadian tersebut, Dhani menyatakan harus lebih waspada. Dia berujar bakal memasang beberapa kamera CCTV di kediaman dan markasnya. Selain itu, dia akan melaporkan ancaman yang muncul di Twitter tersebut. Sementara itu, tim Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Polda Metro Jaya melakukan olah TKP dan memeriksa sidik jari yang tertinggal. Salah seorang petugas yang namanya tidak mau disebutkan menjelaskan akan mencocokkan sidik jari dari empat bom buku. ”Jika ada kesamaan, sangat mungkin itu perakitnya,” ujar dia. Sebelumnya, tiga bom buku ditujukan kepada tiga orang yang berbeda. Bom-bom tersebut juga dikirim Selasa lalu. Salah satunya adalah bom untuk Ulil Abshar Abdalla yang dikirim ke Utan Kayu. Bom serupa dikirim ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jalan M.T. Haryono, Cawang, Jakarta Timur. Bom itu ditujukan kepada Kepala BNN Gories Mere.
Bom ketiga ditujukan kepada Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Soerjosoemarno di Jalan Benda, Ciganjur, Jakarta Selatan. Di antara tiga bom itu, bom di Utan Kayu meledak. Sementara itu, dua bom lain bisa diledakkan oleh tim gegana.

=======================

Gegana Ledakkan Paket Bom di Pondok Indah

Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone
Jum'at, 18 Maret 2011 08:35 wib
JAKARTA
- Paket misterius di Pondok Indah ternyata berisi bom. Paket itu berisi dua buku.

“Iya benar, ada dua buku sedang ditangani Gegana,” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edi kepada okezone, Jumat (18/3/2011).
“Satu buku sudah diledakkan Gegana,” sambungnya.
Hingga kini polisi masih berada di lokasi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Bom Bali I (Tahun 2002)